Dari Ramadhan 1363 H ke Ramadhan 1364 H: Kesibukan umat Islam menyiapkan kemerdekaan RI


PERISTIWA proklamasi kemerdekaan bukan peristiwa sederhana. Butuh keberanian dan dukungan besar untuk berdiri tegak dan menyatakan bangsa yang sudah terjajah ratusan tahun ini untuk menyatakan diri sebagai negara merdeka.

Pada 8 September 1944 atau 19 Ramadhan 1363 Hijriyah, Perdana Menteri Jepang, PM Koisho, mengumumkan sebuah janji bahwa Indonesia akan dimerdekakan kelak.

Sebagai respon atas janji tersebut maka pada tanggal 13 September 1944 atau 25 Ramadhan 1363 Hijriyah para ulama mengadakan rapat umum di Bandung yang dihadiri 10 ribu pengunjung.

Bukannya berleha-leha di masa puasa Ramadhan, para ulama Indonesia justru bekerja keras selama 5 hari penuh hingga berhasil mengumpulkan 10 ribu orang.

Padahal di masa itu komunikasi belum secanggih zaman sekarang. Pertemuan ini ditutup dengan doa oleh K.H. Habib Oesman dari Pesantren Assalam, Bandung.

Di Jakarta, K.H. Wahid Hasyim sebagai ketua Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) pada 13 September 1944 M-14 September 1944 M (25 Ramadhan 1363 H-26 Ramadhan 1363 H) mengadakan rapat akbar di Taman Raden Saleh.

Dalam rapat ini diadakan ceramah kepada umat Islam Indonesia. Dijelaskan tentang masuknya Islam ke Indonesia. Umat Islam juga diperintahkan untuk menyiapkan diri dalam menyambut dan mempertahankan kemerdekaan.

Persiapan itu meliputi ilmu pengetahuan untuk mengisi kemerdekaan dan kesiapan berjihad di bidang militer juga diperlukan mengingat pasti ada yang tidak suka kalau Indonesia merdeka. Dari sini lahir pemikiran Masyumi untuk membentuk laskar yang nantinya bernama Hizbullah (pada saat itu belum terpikir namanya).

Hal ini dilakukan oleh para ulama untuk menjaga momentum janji Jepang, sekaligus sinyal kepada Jepang untuk tidak main-main dengan janjinya.

Tahun berikutnya, juga di bulan Ramadhan, tanpa dikira Jepang kalah perang dan mengumumkan diri menyerah pada Sekutu pada 15 Agustus 1945. Dengan kata lain, Jepang tidak punya kekuasaan untuk menepati janjinya tahun lalu karena Jepang berada di bawah kendali Sekutu. Waktunya tidak banyak, tapi saat itu terjadi kekosongan kekuasaan (vacuum of power) di Indonesia.

Ir. Soekarno dan golongan tua saat itu merasa belum saatnya bagi Indonesia untuk menyatakan proklamasi, dan melihat situasi terlebih dahulu.

Tapi golongan muda memaksa agar proklamasi dilakukan secepat-cepatnya. Karena bersikeras tidak mau menyatakan kemerdekaan Indonesia segera, pada 16 Agustus 1945 golongan muda bahkan menculik Ir. Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, Karawang, untuk menekan tokoh tersebut segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah negosiasi alot, akhirnya kedua tokoh proklamator tersebut dipulangkan ke Jakarta untuk mempersiapkan proklamasi.

Sebelum proklamasi kemerdekaan, Bung Karno meminta restu dan meminta tanggal yang bagus untuk momen bersejarah tersebut kepada Syekh Moesa, K.H. Abdoel Moekti, pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah Madiun, Hadratusy Syekh Rais Akbar Nahdhatul Ulama, dan K.H. Hasyim Asy’ari.

Hadratus Syekh Kiai Haji Hasyim Asy’ari saat itu memerintahkan Bung Karno untuk memproklamasikan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 (9 Ramadhan) dan menyatakan akan berada di belakang Bung Karno untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan dan Nahdatul Ulama akan langsung menyiapkan diri mempertahankan kemerdekaan.

Singkat cerita, akhirnya Bung Karno mempunyai kepercayaan diri untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Pada 18 Agustus 1945 M (10 Ramadhan), ulamaulama seperti Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimedjo dari Muhammadiyah, K.H. A Wahid Hasyim dari Nahdhatul Ulama, K.H. Abdul Kahar Muzakir dari Sarekat Islam, K.H. Agus Salim dari PSII Penyadar, dan K.H. Achmad Sanoesi dari Persyarikatan Ulama mengadakan rapat BPUPKI merumuskan Undang- Undang Dasar 1945 dan dasar negara Pancasila.

Sekali lagi ulama dan umat Islam menunjukkan perannya mengawal kemerdekaan Indonesia. B.J. Boland, seorang Rohaniwan Katolik dalam bukunya, Pergumulan Politik Islam, mengatakan bahwa pada 1945-1949 rakyat Indonesia di akar rumput yang menjadi pejuang front terdepan dalam perang melawan Belanda dan Sekutu sangat dekat dengan ulama.

Mereka bersama para santri dan ulama tidak mementingkan diri sendiri dengan berebutan kekuasaan seperti yang dilakukan golongan lain, melainkan fokus mengusir Belanda. Mereka pun tidak menonjolkan diri sendiri dengan menyebut merekalah yang paling berjasa.

Tetapi hal ini menurut Ahmad Mansyur Suryanegara menjadi bumerang. Justru orang-orang dari golongan lain walaupun perannya sedikit mereka menulis buku sehingga seolah-olah merekalah yang paling berjasa dalam memerdekakan Indonesia. Inilah yang perlu diluruskan oleh sejarawan masa kini.

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment